Loading
Logo
Beranda Tentang

Bali Siapkan Trem Listrik, Malang Bisa Belajar Apa dari Transportasi Wisata?

Finansial
12 Sep 2026
39 dilihat
Bali Siapkan Trem Listrik, Malang Bisa Belajar Apa dari Transportasi Wisata?

Ketika Bali mulai menyiapkan trem listrik untuk menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga Canggu, pertanyaannya bukan hanya kapan trem tersebut beroperasi. Bagi kota wisata lain seperti Malang, perkembangan ini juga menarik untuk dilihat sebagai contoh: seberapa jauh transportasi publik bisa ikut menentukan perputaran ekonomi daerah?

Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Badung dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah menyiapkan trem listrik berbasis baterai sepanjang sekitar 12 kilometer. Groundbreaking ditargetkan pada Maret 2027, dengan trase pertama direncanakan mulai beroperasi pada 2028. Jika berjalan maksimal, trem diproyeksikan mampu mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari.

Bagi Malang, proyek tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran. Sebab, persoalan transportasi di kota wisata bukan hanya tentang bagaimana warga berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga bagaimana wisatawan, pelajar, pekerja, dan pelaku usaha bergerak tanpa menambah beban kemacetan.

Ketika Transportasi Bertemu dengan Ekonomi Wisata

Rute trem Bali dirancang melewati kawasan dengan aktivitas masyarakat dan pariwisata yang sangat tinggi. Pemerintah Bali menyebut mobilitas di koridor Bandara–Canggu mencapai sekitar 150 ribu orang per hari dengan sekitar 80 ribu kendaraan. Karena itu, transportasi massal diproyeksikan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Konsep seperti ini relevan untuk melihat kondisi Malang.

Malang memiliki pusat pendidikan, kawasan wisata, pusat kuliner, perdagangan, hingga destinasi yang terhubung dengan wilayah Malang Raya. Ketika arus wisatawan dan aktivitas masyarakat meningkat, kebutuhan transportasi ikut meningkat.

Artinya, transportasi publik sebenarnya bukan sekadar fasilitas pemerintah. Ia merupakan bagian dari infrastruktur ekonomi.

Semakin mudah orang bergerak, semakin mudah pula mereka mencapai pusat perdagangan, restoran, hotel, tempat wisata, kampus, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Malang Sudah Mulai Membenahi Transportasi Publik

Malang sebenarnya tidak memulai dari nol.

Pada November 2025, Trans Jatim Koridor I Malang Raya atau Trans Jatim Gajayana mulai beroperasi. Pemerintah Kota Malang menyebut layanan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas sekaligus mengurangi kemacetan, dengan rute yang melintasi permukiman, pusat kegiatan ekonomi, layanan publik, pendidikan, dan kawasan wisata.

Langkah lain juga terlihat dari peluncuran angkutan pelajar gratis pada Agustus 2026. Sebanyak 66 armada disiapkan untuk melayani 15 rute. Program tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu mobilitas pelajar, tetapi juga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi pada jam sibuk dan mengoptimalkan kembali peran angkutan kota.

Bahkan, Dinas Perhubungan Kota Malang sedang mengkaji penataan ulang trayek angkot, termasuk kemungkinan menjangkau kawasan yang sebelumnya belum terlayani secara optimal seperti bagian dalam Sawojajar hingga Cemorokandang.

Jadi, pelajaran dari Bali bukan berarti Malang harus langsung membangun trem.

Yang lebih penting adalah bagaimana Malang membangun sistem transportasi yang saling terhubung.

Bukan Sekadar Menambah Moda

Pembangunan trem Bali juga menunjukkan bahwa menambah moda transportasi saja tidak cukup.

Trem tersebut dirancang menggunakan teknologi baterai sehingga tidak membutuhkan kabel listrik sepanjang jalur. Moda ini diproyeksikan memiliki waktu tempuh sekitar 30 menit dengan interval keberangkatan sekitar 10 menit. Selain mengurangi kepadatan lalu lintas, teknologi tersebut juga dipilih dengan mempertimbangkan lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

Untuk Malang, prinsip yang sama bisa diterapkan dalam skala yang berbeda.

Misalnya, pengembangan transportasi publik perlu memperhatikan rute, frekuensi, keterjangkauan tarif, koneksi antarmoda, serta akses menuju pusat ekonomi dan destinasi wisata.

Percuma memiliki transportasi publik jika wisatawan tetap harus menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai tujuan terakhir karena tidak tersedia koneksi yang nyaman.

Karena itu, keberhasilan transportasi publik seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah armada yang beroperasi, tetapi juga dari seberapa banyak masyarakat yang akhirnya memilih meninggalkan kendaraan pribadi.

Ada Dampaknya ke Bisnis Lokal

Transportasi yang lebih baik juga berpotensi mengubah pola pergerakan uang di suatu daerah.

Bayangkan wisatawan yang lebih mudah berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengunjungi restoran, pusat oleh-oleh, hotel, pasar, tempat hiburan, maupun usaha lokal.

Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut berarti akses pelanggan bisa menjadi lebih luas.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis terjadi. Pelaku bisnis tetap perlu menyesuaikan lokasi usaha, jam operasional, layanan digital, metode pembayaran, hingga strategi promosi dengan perubahan pola mobilitas.

Artinya, ketika transportasi publik berkembang, pelaku usaha juga perlu melihatnya sebagai perubahan dalam peta pasar, bukan hanya perubahan lalu lintas.

Malang Tidak Harus Meniru Bali

Bali memiliki karakteristik yang berbeda dengan Malang. Koridor Bandara–Canggu memiliki konsentrasi aktivitas pariwisata dan mobilitas yang sangat tinggi, sehingga kebutuhan terhadap moda berkapasitas besar menjadi berbeda.

Karena itu, solusi transportasi Malang tidak harus berupa trem.

Yang lebih penting adalah menemukan moda yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah. Integrasi Trans Jatim, angkot, layanan pelajar, transportasi menuju kawasan wisata, serta koneksi antarkawasan Malang Raya bisa menjadi fondasi yang terus dikembangkan.

Pemerintah Kota Malang sendiri masih melakukan evaluasi terhadap layanan transportasi yang berjalan dan membuka kemungkinan pengembangan rute berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, investasi transportasi tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi benar-benar diarahkan untuk menciptakan sistem mobilitas yang mendukung aktivitas ekonomi.

Transportasi Adalah Investasi Ekonomi

Proyek trem Bali memberikan satu pelajaran penting: transportasi publik dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi daerah.

Ketika mobilitas semakin mudah, waktu perjalanan dapat ditekan, akses ke pusat ekonomi semakin terbuka, dan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.

Bagi Malang yang memiliki aktivitas pendidikan, perdagangan dan pariwisata yang kuat, pengembangan transportasi publik juga perlu dipandang dari perspektif tersebut.

Bukan hanya: “berapa bus yang tersedia?”

Tetapi juga: “berapa banyak aktivitas ekonomi yang bisa terhubung karena transportasi tersebut?”

Jika jawabannya semakin banyak, maka transportasi publik bukan lagi sekadar fasilitas mobilitas. Ia sudah menjadi investasi untuk menjaga perputaran ekonomi kota.

Trem listrik Bali mungkin masih berada pada tahap perencanaan, tetapi proyek tersebut menunjukkan bahwa transportasi publik mulai dipandang sebagai bagian penting dari masa depan kawasan wisata.

Malang tidak harus memiliki trem untuk mendapatkan manfaat dari pelajaran tersebut. Yang dibutuhkan adalah sistem transportasi yang mampu menghubungkan masyarakat, wisatawan, dan pusat-pusat ekonomi secara lebih mudah.

Sebab, ketika orang lebih mudah bergerak, uang pun punya lebih banyak peluang untuk ikut bergerak.

Ceritra Bot
Online