Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mudah digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat gambar, menulis teks, atau membantu pekerjaan, AI kini juga dapat digunakan untuk menghasilkan suara yang terdengar menyerupai manusia. Salah satu contohnya muncul di Kota Malang, ketika sebuah SPBU menggunakan suara buatan AI yang terdengar mirip dengan Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan informasi kepada konsumen.
Penggunaan teknologi tersebut terjadi di SPBU 54.651.05 yang berada di Jalan Raya Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Rekaman suara tersebut digunakan untuk mengumumkan bahwa stok Pertalite sedang habis dan SPBU hanya melayani pembelian BBM tertentu yang masih tersedia. Pengumuman tersebut kemudian direkam oleh konsumen dan menjadi viral di media sosial.
Mengapa SPBU Menggunakan Suara AI?
Menurut pengawas SPBU Tlogomas, Supriyanto, penggunaan suara tersebut sebenarnya berangkat dari kebutuhan praktis. Konsumen yang sudah terlanjur mengantre sering kali baru mengetahui bahwa stok Pertalite habis setelah berada di dekat pompa pengisian.
Pihak SPBU menilai pengumuman melalui pengeras suara lebih mudah didengar dibandingkan tulisan pada papan informasi. Dengan demikian, konsumen dapat mengetahui kondisi stok sebelum menghabiskan waktu untuk mengantre.
Kondisi tersebut cukup relevan dengan karakteristik SPBU Tlogomas. Menurut pihak SPBU, banyak konsumennya merupakan mahasiswa yang menggunakan sepeda motor. Ketika aktivitas perkuliahan kembali berjalan, permintaan Pertalite pun meningkat. Pada salah satu periode pengiriman, SPBU tersebut menerima sekitar 48 ribu liter Pertalite dan memperkirakan stoknya dapat kembali habis dalam waktu singkat.
Dari sudut pandang teknologi, kasus ini menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan komunikasi yang sederhana. Tidak diperlukan sistem yang kompleks. Teknologi suara sintetis cukup digunakan untuk membuat informasi lebih mudah terdengar oleh orang yang sedang berada di area SPBU.
Ketika Teknologi Bertemu Identitas Suara
Namun, persoalan mulai muncul ketika suara yang digunakan bukan suara sintetis generik, melainkan suara yang terdengar menyerupai tokoh publik.
Teknologi voice cloning memungkinkan sistem AI menghasilkan suara yang memiliki karakteristik tertentu berdasarkan contoh suara. Kemampuan tersebut membuka berbagai peluang, misalnya untuk produksi konten, aksesibilitas, pendidikan, layanan pelanggan, hingga industri kreatif.
Di sisi lain, teknologi yang sama juga menimbulkan pertanyaan mengenai penggunaan identitas seseorang. Ketika masyarakat mendengar suara yang sangat mirip dengan tokoh terkenal, mereka dapat mengira bahwa orang tersebut benar-benar menyampaikan pesan tersebut.
Dalam kasus SPBU Tlogomas, tidak ada indikasi bahwa Jokowi maupun Prabowo benar-benar terlibat dalam pembuatan atau penyampaian pengumuman tersebut. Suara yang digunakan merupakan hasil teknologi AI yang dibuat oleh pihak SPBU.
Hal inilah yang membuat teknologi voice cloning perlu digunakan secara hati-hati. Persoalannya bukan hanya apakah teknologi tersebut dapat membuat suara yang mirip, tetapi juga bagaimana suara tersebut digunakan dan bagaimana masyarakat dapat membedakan suara asli dengan suara sintetis.
Viral dan Mendapat Teguran Pertamina
Setelah video pengumuman tersebut viral, penggunaan rekaman suara AI akhirnya dihentikan. Pihak SPBU mengonfirmasi bahwa mereka mendapat teguran dari manajemen Pertamina. Rekaman tersebut kemudian dihapus dan tidak lagi diputar.
Sebagai gantinya, SPBU kembali menggunakan papan tulisan untuk memberi tahu konsumen ketika stok Pertalite habis.
Kasus ini menjadi contoh menarik bahwa inovasi teknologi tidak selalu hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Sebuah solusi yang dianggap efektif oleh penggunanya tetap perlu mempertimbangkan aturan, konteks penggunaan, serta potensi dampaknya terhadap publik.
Apakah Teknologi AI Harus Dihindari?
Jawabannya tentu tidak. Penggunaan AI dalam komunikasi justru memiliki banyak potensi. Teknologi suara sintetis dapat membantu membuat pengumuman lebih jelas, menyediakan layanan otomatis, membantu penyandang disabilitas, dan meningkatkan efisiensi komunikasi.
Yang perlu diperhatikan adalah transparansi dan batas penggunaannya.
Jika suara AI digunakan, masyarakat sebaiknya dapat mengetahui bahwa suara tersebut merupakan suara sintetis. Penggunaan suara yang menyerupai figur publik juga membutuhkan pertimbangan lebih lanjut karena dapat menimbulkan kesan seolah-olah tokoh tersebut benar-benar memberikan pernyataan.
Kasus di Malang memperlihatkan sisi menarik dari perkembangan AI. Teknologi yang awalnya digunakan untuk menyelesaikan masalah sederhana—memberi tahu konsumen bahwa Pertalite habis—justru membuka diskusi lebih luas mengenai identitas digital, voice cloning, transparansi, dan etika teknologi.
Pada akhirnya, inovasi bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang dapat dibuat, tetapi juga seberapa tepat teknologi tersebut digunakan. Kasus SPBU Tlogomas menjadi pengingat bahwa ketika AI semakin mudah diakses, batas antara kreativitas dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab juga menjadi semakin penting.
Referensi